Teknologi musik dan artikel ramah lingkungan.
Teknologi musik
Teknologi musik adalah istilah yang merujuk pada segala bentuk teknologi yang terlibat dengan seni musik, khususnya penggunaan perangkat elektronik dan perangkat lunak komputer untuk memfasilitasi pemutaran, rekaman, komposisi, penyimpanan dan penampilan. Masalah ini diajarkan di banyak tingkat pendidikan yang berbeda, termasuk K-12 melalui perguruan tinggi dan universitas. Selain itu, teknologi musik meliputi aspek teknis dan ilmiah musik seperti ilmu akustik, pemrograman, musik psikologi/sosiologi dan praktek bisnis industri musik
Memadukan Teknologi untuk Musik
Tak bisa dipungkiri lagi, dunia musik nasional tengah dirundung awan mendung. Masalah silih berganti seakan-akan tak ada habisnya, mulai dari pengidolaan semu-musiman, pembajakan, penjiplakan lagu, gugat-menggugat hak royalti dari sebuah karya, dan masih banyak lagi. Hal ini mengubah gaya para pencipta lagu dan musisi dalam bermanuver di panggung musik nasional, karena pada jaman modern seperti saat ini, mereka sudah tidak bisa lagi mengandalkan rupiah yang dihasilkan melalui penjualan kaset. Ya, industri musik konvensional sudah mati sejak lama!
Musisi-musisi terbaik Indonesia; hingga yang paling jelek; dipaksa untuk tampil secara maraton di acara musik yang ditayangkan secara reguler dan live. Tak jarang pula mereka membawakan lagunya dengan cara lipsync, padahal mereka tahu persis bahwa melakukan lipsync ibarat menyayat nadi musikalitas profesional mereka sendiri menggunakan pisau yang berkarat. Tidak akan langsung mati memang, namun perlahan mereka akan terjembab hingga level terbawah. Kocek mereka menjadi tebal, namun dengan cara yang kurang elok jika dipandang melalui kacamata seni.
Padahal, jika dirunut lebih jauh, modernisasi itu sendirilah yang menyebabkan industri musik nasional kolaps. Lho, bagaimana bisa? Dengan hadirnya teknologi internet, semua orang bisa mendownload lagu secara gratis dan mudah melalui komputer, laptop, bahkan telpon genggam sekalipun. Hal ini juga didukung oleh kecanggihan telpon genggam masa kini yang memiliki fitur pemutar musik yang mutakhir dan tidak kalah canggih dari tape biasa, maka semakin terpuruklah kaset-pita diterjang masa. Timbul sebuah pertanyaan, mengapa kejadian ini tidak terjadi di industri musik internasional? Berbeda dengan mayoritas penduduk Indonesia, sebagian besar penduduk di negara-negara maju lebih apresiatif terhadap karya seni sekaligus juga anti terhadap pembajakan, sehingga penjualan album melalui kaset dan CD masih bisa menembus jutaan kopi.
Disini, penulis selaku pecinta musik Indonesia mengaku bersalah dan bimbang, karena disatu sisi ingin menyatakan kecintaannya terhadap buah karya para musisi, sementara disisi lain terdapat keengganan untuk mengeluarkan rupiah demi mendapatkan kaset aslinya. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan gagasannya tentang industri musik di era modern.
Memaksimalkan Layanan Internet dan Jasa Operator
Terdapat dua elemen utama dalam ide ngawur ini: operator telpon genggam dan layanan internet. Dengan memaksimalkan pengunaan layanan internet melalui modem atau telpon genggam, orang bisa dengan mudah mendownload lagu bajakan. Namun dengan menerapkan peraturan baru dan pemblokiran terhadap situs yang mengunggah lagu secara tidak resmi, diharapkan nantinya akan timbul kesadaran dalam diri kita untuk mendownload lagu yang resmi.
Sistematikanya adalah label rekaman yang menaungi para musisi bekerja sama dengan operator telpon genggam dalam penggandaan dan penjualan lagu secara digital. Operator telpon berperan sebagai alat tukar uang, dalam hal ini pulsa yang digunakan sebagai alat beli lagu digital. Jika satu album yang berisi sepuluh lagu dihargai sebesar Rp 20.000, maka satu copy lagu digital resmi bisa ditawarkan ke pasaran dengan kisaran Rp 3.000 hingga Rp 5.000. Rasa-rasanya, angka yang sepadan mengingat kita bisa memiliki satu copy lagu yang resmi, kualitas audio yang bagus dan juga tidak perlu repot-repot pergi ke toko musik.
Berikut ini adalah ilustrasi yang menggambarkan penggunaan sistem ini: Fitri, 16, seorang siswi kelas sebelas dari sebuah SMA Negeri di Demak mengidolakan band yang tengah bangkit dari kubur, NOAH. Jika menerapkan sistem ini, maka NOAH dibawah label Musica dapat menjalin kerja sama dengan para operator telpon. Selanjutnya tergantung layanan operator telpon manakah yang digunakan Fitri, dan melalui media apakah dia hendak ‘membeli’ satu copy asli dari lagu NOAH. Dia bisa memiliki satu copy asli dari lagu NOAH hanya jika memiliki pulsa diatas harga jual satu buah kopi lagu. Secara sepintas, ‘membeli’ melalui mobile internet lebih praktis, karena tidak perlu menggunakan layanan internet tambahan seperti modem agar bisa terkoneksi dengan layanan internet.
Meskipun demikian, masalah tidak lantas sirna begitu saja. Harus ada sebuah terobosan teknologi mutakhir dalam menciptakan aplikasi untuk memberikan proteksi terhadap copy lagu tersebut, sehingga tidak dapat berpindah tangan dengan cara disalin ke perangkat digital lainnya.
Cara ini terdengar usang memang. Beberapa waktu lalu, sebuah operator juga pernah merealisasikan gagasan semacam ini. Namun, barangkali karena hanya dilakukan satu arah dan tanpa dukungan dari pihak-pihak lainnya, maka usaha tersebut pun gugur di tengah perjalanannya.
Oleh karena itu, yang terpenting dalam merealisasikan gagasan ini adalah kesatuan yang kuat dalam membenahi industri musik nasional. Kita memerlukan suara bulat dari semua pihak agar impian terciptanya industri musik yang sehat bisa terwujud; memerangi pembajakan. Toh, kiranya nominal keuntungan yang diancang-ancangkan tidak bisa dikatakan sedikit. Sekali lagi, penulis tekankan, semua tergantung pada niat dan diri kita sendiri; maju dan mengikuti perkembangan jaman atau stagnan dan gugur dilahap waktu. Salam musik Indonesia yang berkualitas!
Musisi-musisi terbaik Indonesia; hingga yang paling jelek; dipaksa untuk tampil secara maraton di acara musik yang ditayangkan secara reguler dan live. Tak jarang pula mereka membawakan lagunya dengan cara lipsync, padahal mereka tahu persis bahwa melakukan lipsync ibarat menyayat nadi musikalitas profesional mereka sendiri menggunakan pisau yang berkarat. Tidak akan langsung mati memang, namun perlahan mereka akan terjembab hingga level terbawah. Kocek mereka menjadi tebal, namun dengan cara yang kurang elok jika dipandang melalui kacamata seni.
Padahal, jika dirunut lebih jauh, modernisasi itu sendirilah yang menyebabkan industri musik nasional kolaps. Lho, bagaimana bisa? Dengan hadirnya teknologi internet, semua orang bisa mendownload lagu secara gratis dan mudah melalui komputer, laptop, bahkan telpon genggam sekalipun. Hal ini juga didukung oleh kecanggihan telpon genggam masa kini yang memiliki fitur pemutar musik yang mutakhir dan tidak kalah canggih dari tape biasa, maka semakin terpuruklah kaset-pita diterjang masa. Timbul sebuah pertanyaan, mengapa kejadian ini tidak terjadi di industri musik internasional? Berbeda dengan mayoritas penduduk Indonesia, sebagian besar penduduk di negara-negara maju lebih apresiatif terhadap karya seni sekaligus juga anti terhadap pembajakan, sehingga penjualan album melalui kaset dan CD masih bisa menembus jutaan kopi.
Disini, penulis selaku pecinta musik Indonesia mengaku bersalah dan bimbang, karena disatu sisi ingin menyatakan kecintaannya terhadap buah karya para musisi, sementara disisi lain terdapat keengganan untuk mengeluarkan rupiah demi mendapatkan kaset aslinya. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan gagasannya tentang industri musik di era modern.
Memaksimalkan Layanan Internet dan Jasa Operator
Terdapat dua elemen utama dalam ide ngawur ini: operator telpon genggam dan layanan internet. Dengan memaksimalkan pengunaan layanan internet melalui modem atau telpon genggam, orang bisa dengan mudah mendownload lagu bajakan. Namun dengan menerapkan peraturan baru dan pemblokiran terhadap situs yang mengunggah lagu secara tidak resmi, diharapkan nantinya akan timbul kesadaran dalam diri kita untuk mendownload lagu yang resmi.
Sistematikanya adalah label rekaman yang menaungi para musisi bekerja sama dengan operator telpon genggam dalam penggandaan dan penjualan lagu secara digital. Operator telpon berperan sebagai alat tukar uang, dalam hal ini pulsa yang digunakan sebagai alat beli lagu digital. Jika satu album yang berisi sepuluh lagu dihargai sebesar Rp 20.000, maka satu copy lagu digital resmi bisa ditawarkan ke pasaran dengan kisaran Rp 3.000 hingga Rp 5.000. Rasa-rasanya, angka yang sepadan mengingat kita bisa memiliki satu copy lagu yang resmi, kualitas audio yang bagus dan juga tidak perlu repot-repot pergi ke toko musik.
Berikut ini adalah ilustrasi yang menggambarkan penggunaan sistem ini: Fitri, 16, seorang siswi kelas sebelas dari sebuah SMA Negeri di Demak mengidolakan band yang tengah bangkit dari kubur, NOAH. Jika menerapkan sistem ini, maka NOAH dibawah label Musica dapat menjalin kerja sama dengan para operator telpon. Selanjutnya tergantung layanan operator telpon manakah yang digunakan Fitri, dan melalui media apakah dia hendak ‘membeli’ satu copy asli dari lagu NOAH. Dia bisa memiliki satu copy asli dari lagu NOAH hanya jika memiliki pulsa diatas harga jual satu buah kopi lagu. Secara sepintas, ‘membeli’ melalui mobile internet lebih praktis, karena tidak perlu menggunakan layanan internet tambahan seperti modem agar bisa terkoneksi dengan layanan internet.
Meskipun demikian, masalah tidak lantas sirna begitu saja. Harus ada sebuah terobosan teknologi mutakhir dalam menciptakan aplikasi untuk memberikan proteksi terhadap copy lagu tersebut, sehingga tidak dapat berpindah tangan dengan cara disalin ke perangkat digital lainnya.
Cara ini terdengar usang memang. Beberapa waktu lalu, sebuah operator juga pernah merealisasikan gagasan semacam ini. Namun, barangkali karena hanya dilakukan satu arah dan tanpa dukungan dari pihak-pihak lainnya, maka usaha tersebut pun gugur di tengah perjalanannya.
Oleh karena itu, yang terpenting dalam merealisasikan gagasan ini adalah kesatuan yang kuat dalam membenahi industri musik nasional. Kita memerlukan suara bulat dari semua pihak agar impian terciptanya industri musik yang sehat bisa terwujud; memerangi pembajakan. Toh, kiranya nominal keuntungan yang diancang-ancangkan tidak bisa dikatakan sedikit. Sekali lagi, penulis tekankan, semua tergantung pada niat dan diri kita sendiri; maju dan mengikuti perkembangan jaman atau stagnan dan gugur dilahap waktu. Salam musik Indonesia yang berkualitas!
Artikel teknologi ramah lingkungan terbaru - Kondisi bumi yang terus menurun dari tahun ke tahun serta isu tentang pemanasan global santer dibicarakan akhir-akhir ini. Seperti yang kita ketahui dan rasakan, alam di sekitar kitapun “memberikan sinyal” bahwa telah terjadi kerusakan serius dan jika tidak ditanggulangi dengan segera akan membahayakan masa depan makhluk hidup di dunia ini. Cuaca yang kian memanas, naiknya permukaan air laut diatas ambang normal adalah contoh nyata efek dari pemanasan global. Dalam beberapa kliping maupun artikel teknologi ramah lingkungan terbaru, diungkapkan bahwa aktifitas pabrik dengan berbagai teknologi mesin serta banyaknya kendaraan bermotor di sebut-sebut sebagai penyumbang emisi terbesar di dunia.
Kondisi yang dilematis dirasakan oleh perusahaan-perusahaan di bidang teknologi mesin, baik itu mesin produksi di pabrik, otomotif ataupun mesin-mesin lainnya. Di satu sisi mereka harus memaksimalkan pendapatan dengan menekan biaya produksi sekecil mungkin, namun di sisi lain mereka juga dituntut untuk mengembangkan / menggunakan teknologi terbaru yang ramah akan lingkungan. Sementara seperti yang kita ketahui bersama dari berbagai referensi baik itu bersumber dari artikel teknologi maupun media masa, bahwa biaya untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan membutuhkan investasi yang sangat mahal. Berikut ini adalah contoh pengaplikasian teknologi ramah lingkungan 1. Pembangkit listrik tenaga surya / sinar matahari (nanosolar). 2. Pembangkit listrik tenaga panas bumi (Enhanced Geolhermal System / EGS). 3. Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). 4. Mobil bertenaga listrik. Setidaknya ada tiga jenis model energi ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk menjalankan mesin mobil, yakni:· perpaduan antara motor listrik dan mesin bensin (hybrid)
· energi listrik yang berasal dari tenaga surya atau sinar matahari (nanosolar)
· energi listrik melalui alat pengisian ulang atau baterai, seperti pada perangkat ponsel (charger)
Teknologi yang humanis atau yang biasa kita sebut sebagai teknologi ramah lingkungan, dapat diartikan sebagai semua hal yang berhubungan dengan perangkat teknologi untuk tujuan tertentu dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Sebelumnya orang hanya berfikir instan, bagaimana cara untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan efek panjang dari semua aktifitasnya, hingga alam memberikan peringatan dan akhirnya kesadaran itu muncul. Berapa nilai oksigen yang kita hirup? Atau seberapa besar artinya kelestarian harimau sumatera, orangutan di kalimantan serta pinguin yang hidup di kutub sana? Jika kita mau bicara jujur, semua itu tak ternilai harganya. Sudah saatnya kita duduk bersama dan merubah visi demi masa depan anak cucu kita.
Lantas apa yang bisa kita sumbangkan dalam rangka ikut melestarikan
Lantas apa yang bisa kita sumbangkan dalam rangka ikut melestarikan Lantas apa yang bisa kita sumbangkan dalam rangka ikut melestarikan lingkungan? Di kehidupan sehari-hari banyak hal bisa kita lakukan, mulailah dari hal-hal kecil. Mengumpulkan sampah organik / non organik di sekitar kita kemudian kita pisahkan untuk di daur ulang kembali. Menggunakan listrik seperlunya saja serta mengontrol pemakaian air. Atau jika anda ingin menggunakan mesin pengawet makanan dirumah dengan teknologi yang ramah lingkungan, pilihlah kulkas pendingin tanpa freon. Banyak artikel maupun referensi & informasi yang mengunkapkan bahwa zat ini sangat berpotensi merusak lapisan ozon. Itulah beberapa kiat untuk kita berpartisipasi mengurangi pemanasan global, dan selanjutnya pilihan ada ditangan kita.
Lantas apa yang bisa kita sumbangkan dalam rangka ikut melestarikan
Lantas apa yang bisa kita sumbangkan dalam rangka ikut melestarikan Lantas apa yang bisa kita sumbangkan dalam rangka ikut melestarikan lingkungan? Di kehidupan sehari-hari banyak hal bisa kita lakukan, mulailah dari hal-hal kecil. Mengumpulkan sampah organik / non organik di sekitar kita kemudian kita pisahkan untuk di daur ulang kembali. Menggunakan listrik seperlunya saja serta mengontrol pemakaian air. Atau jika anda ingin menggunakan mesin pengawet makanan dirumah dengan teknologi yang ramah lingkungan, pilihlah kulkas pendingin tanpa freon. Banyak artikel maupun referensi & informasi yang mengunkapkan bahwa zat ini sangat berpotensi merusak lapisan ozon. Itulah beberapa kiat untuk kita berpartisipasi mengurangi pemanasan global, dan selanjutnya pilihan ada ditangan kita.


Comments
Post a Comment